Twitter
LinkedIn
YouTube
Facebook

Kawah Ratu

Sumber foto: kompasiana.com

Pendakian ke Kawah Ratu, gunung Salak di Bogor ini diadakan pada hari Jumat, 1 Agustus 2014 selagi masih libur kerja. Pendakian inipun diadakan secara mendadak untuk memanfaatkan waktu yang masih libur kerja. Pendakian ini dilakukan secara tektok (langsung pulang) pada hari itu juga. Pada hari Kamis, saya kabar-kabari teman-teman di daerah Cileungsi tentang rencana pendakian ini lewat WhatsApp group. Tapi yang cocok waktunya ternyata Stephen Belmin, yang akhirnya kami berangkat dengan motor masing-masing.

Kendaraan umum ke Kawah Ratu yang sering ditempuh adalah lewat desa Pasir Reungit, yaiut dengan naik angkot dari Bogor ke Leuwiliang dan turun di Cibatok. Dari Cibatok naik angkot ke Pasir Reungit. Bila penumpangnya tidak banyak yang menuju Pasir Reungit, angkot seringkali menurunkan penumpangnya di tengah jalan, misalnya di pintu masuk curug Cigamea, sehingga kita harus melanjutkan ke Pasir Reungit dengan berjalan kaki beberapa kilometer jauhnya. Kawah Ratu bisa juga dicapai lewat jalur curug Sewu (sebelum Pasir Reungit) yang juga ada di kanan jalan setelah curug Cigamea. Lewat desa Cidahu, Cicurug, Sukabumi, Kawah Ratu juga bisa diakses. Read More…

Gunung Papandayan

Pagi yang cerah di sekitar gunung Papandayan

Perjalanan ini diadakan pada hari Jumat dan Sabtu, tanggal 15 dan 16 Juni 2012 bersama teman-teman dari team Kaskus OANC (Outdoor Adventure & Nature Club). Melihat waktu yang diumumkan di Facebook oleh kang Ndar mengenai rencana perjalanan tersebut, saya memutuskan untuk ikut karena waktunya cocok untuk saya dan memungkinkan untuk saya untuk pulang/tiba kembali di Cileungsi hari Sabtu malam, karena di hari Minggunya saya ada keperluan yang penting.

Perjalanan ini dilakukan dengan menggunakan angkutan umum, dengan menumpang bus dari terminal bus Kampung Rambutan menuju Garut. Dari terminal bus Garut, naik angkutan ke Cisurupan. Kemudian di Cisurapan, kami naik mobil bak terbuka ke Camp David, pos pendakian gunung Papandayan. Selain mobil bak terbuka, tersedia juga ojek yang bisa mengantarkan kita ke Camp David, yaitu pintu masuk pendakian gunung Papandayan. Dalam pendakian ke gunung Papandayan ini, selain tim yang menggunakan angkutan umum, ada juga tim Kaskus OANC yang menyewa mobil Elf.

Read More…

Pulau Samosir

Danau Toba dan pulau Samosir yang tampak di kejauhan

Perjalanan ini diadakan pada bulan Februari 2015, ketika menemani ibuku yang sudah tua, pulang ke kampung halamannya di pulau Samosir, di tengah danau Toba, di propinsi Sumatera Utara yang beribukota Medan. Saya harus mengambil cuti selama 5 hari kerja untuk menemani ibuku, karena adik-adikku sedang tidak ada yang bisa ikut untuk menemani dan menjaga ibuku pulang kampung. Persisnya nama kampung halaman ibuku adalah Ambarita, kira-kira setengah jam dari Tomok, penyeberangan kapal di pulau Samosir.

Pulau Samosir yang ada di tengah Danau Toba, di provinsi Sumatera Utara itu bisa dilalui lewat darat, laut dan udara. Bila dituju lewat darat dengan menggunakan bus, mobil ataupun motor dari pulau Jawa, kendaraan harus melewati penyeberangan kapal Ferry di Merak dan melanjutkan perjalanan setelah tiba di Bakauheni, Lampung. Perjalanan lewat darat menuju Danau Toba bisa dicapai kira-kira 45 jam perjalanan (belum termasuk waktu untuk beristirahat tentunya). Bila lewat laut, bisa menumpang kapal Pelni selama perjalanan kira-kira 2 hari untuk tiba di pelabuhan Belawan, kemudian melanjutkan perjalanan naik bus ke Danau Toba selama kira-kira 5 jam. Bila lewat udara, akan lebih cepat bisa tiba di Danau Toba, karena dalam waktu kira-kira 2 jam saja, kita sudah bisa tiba di Medan, ibukota Sumatera Utara, kemudian melanjutkan perjalanan naik bus ke Danau Toba selama kira-kira 5 jam, tapi dengan naik taxi yang sekarang banyak berupa mobil pribadi yang bisa memuat beberapa penumpang sekaligus, tiba di Danau Toba bisa lebih cepat. Read More…

Puncak Mahameru

Puncak Mahameru yang merupakan atap pulau jawa

Perjalanan ke gunung tertinggi di pulau Jawa yang di Malang, Jawa Timur ini diadakan pada saat libur lebaran tahun 2010, tepatnya dari tanggal 12 sampai 18 September 2010. Saya melakukan perjalanan ini bersama Bobby, Icha, Dilon dan Fikri. Kami bertemu di stasiun Pasar Senen pada hari Minggu 12 September 2010 dengan menumpang kereta api Mataremaja tujuan Malang. Kami tiba di Malang keesokan harinya sekitar jam dua siang, setelah menempuh perjalanan sekitar 22 jam. Setelah berfoto-foto sejenak di depan stasiun, kami bergegas mencari angkutan menuju Tumpang. Kami berjumpa dengan beberapa pendaki di sekitar stasiun, yang juga punya tujuan yang sama mendaki Mahameru. Kami pun menyewa angkot, yang akhirnya bisa penuh satu angkot (13 orang), dan sebagian besar ransel-ransel kami ditaruh di atas. Dari stasiun kereta api Malang ke Tumpang bisa ditempuh kira-kira setengah jam. Read More…

Danau Toba

Sumber foto: en.wikipedia.org

Danau Toba ada di provinsi Sumatera Utara. Bisa dilalui lewat darat, laut dan udara. Bila dituju lewat lewat darat dengan menggunakan bus, mobil ataupun motor, kendaraan dari pulau Jawa harus melewati penyeberangan kapal Ferry di Merak dan melanjutkan perjalanan setelah tiba di Bakauheni, Lampung. Perjalanan lewat darat menuju Danau Toba bisa dicapai kira-kira 45 jam. Bila lewat laut, bisa menumpang kapal Pelni selama perjalanan kira-kira 2 hari untuk tiba di pelabuhan Belawan, kemudian melanjutkan perjalanan naik bus ke Danau Toba selama kira-kira 5 jam. Bila lewat udara, akan lebih cepat bisa tiba di Danau Toba, karena dalam waktu kira-kira 2 jam saja, kita sudah bisa tiba di Medan, ibukota Sumatera Utara, kemudian melanjutkan perjalanan naik bus ke Danau Toba selama kira-kira 5 jam.

Perjalanan ini dilakukan pada tahun 2010, tepatnya pada tanggal 26 Juli 2010. Kali ini tujuan adalah bukan untuk jalan-jalan atau rekreasi, melainkan karena Opungku (Opung adalah bahasa Batak, yang artinya kakek), meninggal dunia. Di kantor pagi hari itu kira-kira jam 10, setelah mendengar kabar bahwa Opungku di pulau Samosir yang sedang sakit keras tidak tertolong lagi, kontan saya langsung minta izin pulang cepat sekaligus minta cuti, untuk pulang ke kampung ibuku di pulau Samosir, Sumatera Utara. Saya langsung mencari tiket ke travel-travel terdekat yang ada di daerah Cileungsi dan Cibubur. Akhirnya sekitar waktunya makan siang, dapat juga tiket pesawat untuk bisa berangkat hari itu juga, walaupun agak sedikit mahal. Read More…

Bromo

Kawah gunung Bromo (sebelah kiri). Sumber foto: en.wikipedia.org

Perjalanan ini dilakukan setelah pulang dari tugas ke kantor cabang Denpasar PT. Timurraya Kurniamanunggal tempat sya bekerja saat ini (Mei 2013). Saya pulang lewat darat, sebaliknya daripada lewat udara. Tujuan adalah agar bisa menikmati pemandangan gunung Bromo dahulu, sebelum kembali ke Jakarta. Read More…

Gunung Gede Pangrango

Gunung Gede Pangrango dilihat dari Cibodas

Gunung Pangrango adalah gunung yang ada di taman nasional gunung Gede Pangrango yang terletak di Provinsi Jawa Barat. Menurut Wikipedia, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango terutama didirikan untuk melindungi dan mengkonservasi ekosistem dan flora pegunungan yang cantik di Jawa Barat. Dengan luas 21.975 hektare, wilayahnya terutama mencakup dua puncak gunung Gede dan Pangrango beserta tutupan hutan pegunungan di sekelilingnya. Taman Nasional gunung Gede Pangrango dapat dicapai dengan mudah menggunakan kendaraan umum, karena tidak jauh dari simpang jalan raya puncak. Dari jalan raya puncak (Cibodas), untuk mencapai pintu masuk Taman Nasional tersebut, bisa naik angkot dengan membayar ongkos kira-kira Rp. 3000 (waktu sekarang). :)

Pendakian Gunung Pangrango adalah pendakian pertama saya ketika saya duduk di kelas satu SMA. Pendakian ini diadakan ketika saya ikut pencinta alam di SMA saya yaitu Exispal SMA 24, ketika liburan nasional tanggal 17 Agustus. Ini adalah saat-saat pengemblengan dan pemantapan uji fisik dan mental untuk menjadi anggota pencinta alam sebelum pelantikan yang diadakan di gunung Salak.
Read More…

Gunung Semeru

Gunung Semeru tampak di kejauhan. Sumber foto: id.wikipedia.org

Gunung Semeru berada dalam kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (TNBTS). Kawasan hutan di TNBTS ini mempunyai banyak fungsi, antara lain sebagai Hutan Wisata, Hutan Lindung, dan Hutan Produksi. Kawasan ini didominasi hutan dan gunung. Ada juga danau, antara lain Ranu Pane, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo dan Ranu Darungan. Secara administratif kawasan TNBTS terletak dalam 4 (empat) wilayah Kabupaten, yaitu: Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang. Kawasan ini banyak dikenal oleh wisatawan asing maupun domestik, terutama kawasan Bromo, sedangkan para pendaki lebih suka melakukan pendakian ke Gunung Semeru.

Pendakian ini dilakukan pada pertengahan tahun 1990, ketika liburan sekolah dimulai setelah penerimaan rapor kenaikan kelas, ke kelas 2 SMA. Gunung Semeru sebagai gunung tertinggi di pulau Jawa, menjadi tujuan pendakian bagi Exispal kala itu dikarenakan waktu liburan yang cukup panjang, bisa dimanfaatkan untuk pendakian gunung yang makan waktu beberapa hari. Selain jarak yang cukup jauh dari kota Jakarta, yaitu berada di daerah Malang, Jawa Timur, untuk sampai ke puncak Semeru diperlukan waktu lebih dari satu hari, terlebih lagi ada beberapa anak perempuan yang juga ikut dalam pendakian tersebut yaitu Sulistiawati dan Irawati, yang mana pendakian ini dipimpin oleh sang ketua Exispal sendiri yaitu Gita Sutikna. Read More…

Gunung Salak

Gunung Salak, dilihat dari arah Bogor. Sumber foto: id.wikipedia.org

Gunung Salak mempunyai tujuh puncak. Hanya dua puncak yang sering didaki, yaitu Puncak Gunung Salak I (Puncak I) dengan ketinggian 2800 mdpl dan Puncak Gunung Salak II (Puncak II) dengan ketinggian 2211 mdpl. Gunung ini mempunyai medan pendakian yang menantang. Pendakian ini (foto-foto di atas) diadakan ketika saya duduk di kelas 3 SMA, tetapi tidak pernah bisa sampai ke puncaknya, karena medan mendekati puncak Gunung Salak sangat parah untuk dilewati, jalur bebatuan menyusuri sisi tebing yang sangat berbahaya. Jadi biasanya kami akan didirikan tenda di tempat yang kami rasa tidak mampu lagi untuk kami jalani, beristirahat beberapa jam untuk kemudian turun kembali. Gunung Salak adalah gunung yang paling sering kami daki selain Gunung Gede, karena Gunung Salak biasanya medan yang cocok yang kami gunakan untuk diklat dan pelantikan anggota pencinta alam. Perbedaannya adalah kami tidak pernah sampai ke Puncak Gunung Salak, tetapi selalu sampai ke Puncak Gunung Gede. Jadi di Gunung Salak targetnya tidak pernah untuk mencapai puncak gunungnya, karena biasanya untuk tujuan diklat dan pelantikan anggota baru pencinta alam SMA kami, dengan tujuan akhir Kawah Ratu atau ke atas sedikit (jalan antara Shelter IV dan Shelter V). Read More…

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Dua puncak TNGGP. Sumber foto: id.wikipedia.org

Kawasan Gede-Pangrango juga dikenal sebagai salah satu tempat favorit dan tertua, bagi penelitian-penelitian tentang alam di Indonesia. Menurut catatan modern, orang pertama yang menginjakkan kaki di puncak Gede adalah Reinwardt, pendiri dan direktur pertama Kebun Raya Bogor, yang mendaki G. Gede pada April 1819. Ia meneliti dan menulis deskripsi vegetasi di bagian gunung yang lebih tinggi hingga ke puncak. Reinwardt sebetulnya juga menyebutkan, bahwa Horsfield telah mendaki gunung ini lebih dahulu daripadanya; akan tetapi catatan perjalanan Horsfield ini tidak dapat ditemukan. (sumber: id.wikipedia.org)

Ini adalah pendakian nostalgia ke Gunung Gede bersama teman-teman pencinta alam di SMA yaitu Exispal 24, dari berbagai angkatan, ketika saya masih kuliah di semester 6. Pendakiannya lewat Cibodas dan turun di gunung putri Cipanas. Beruntung waktu itu cuacanya cukup cerah, sehingga sunrise nya terlihat jelas. Read More…