Twitter
LinkedIn
YouTube
Facebook

Ujung Kulon

Sumber foto: http://www.ujungkulon.org/

Terletak di bagian paling ujung barat Pulau Jawa, Taman Nasional Ujung Kulon merupakan habitat satu-satunya yang paling baik bagi populasi Badak Jawa di dunia. Karena memiliki nilai ekologi dan kekayaan alam yang tinggi maka pada tahun 1992 UNESCO menetapkan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai Situs Warisan Dunia. Untuk mendukung pengelolaan habitat Badak Jawa di TN Ujung Kulon, WWF-Indonesia membangun kemitraan dengan Departemen Kehutanan, Balai Taman Nasional, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Pemda dan masyarakat lokal. Kegiatan WWF di TN Ujung Kulon dititikberatkan pada pelestarian Badak Jawa dengan mengelola habitatnya dari ancaman perambahan, perburuan liar, dan deforestasi. (Sumber: wwf.or.id)

Ini adalah perjalanan menelusuri cagar alam ujungkulon yang kedua, ketika saya masih duduk di kelas 2  SMA di akhir tahun 90. Foto-foto perjalanan ujungkulon yang pertama kebetulan sudah habis terbawa banjir ketika rumah saya terkena banjir sewaktu banjir besar melanda Ibukota tercinta Jakarta. Foto di atas adalah saat kami tiba di ujung dari Taman Nasioanl Ujungkulon yang ditandai dengan Mercusuarnya yang tinggi dan lampu yang besar.

Perjalanan ini diadakan setelah selesai ulangan umum dan terima rapor caturwulan ke-2. Jadi ada libur kira-kira seminggu sebelum memulai kembali caturwulan yang baru. Saya sangat ingin kembali ke Ujungkulon karena keindahan suasana cagar alam yang komplit segala medannya dan pemandangannya yang lengkap. Saya katakan komplit karena begitu adanya, kita akan melewati persawahan, jembatan gantung yang di bawahnya sungai dengan arus deras ke laut, pantai, muara, hutan, pengunungan, berbagai macam binatang khas ala cagar alam dan ikan laut termasuk lumba-lumba, ular laut, burung-burung dan lain sebagainya. Saya akan coba menceritakan detail perjalanannya. :-)

Perjalanan ini terdiri dari 6 orang saja, dimana saya sebagai leader, karena saya sangat nge-bet ingin sekali kembali menapaki cagar alam Ujungkulon setelah jatuh cinta pada perjalanan yang pertama setahun sebelumnya ketika saya masih duduk di kelas satu untuk mengambil topi gunung dari pencinta alam di sekolah kami ( Exispal SMA 24 ), setelah beberapa bulan sebelumnya mendapatkan slayer setelah pelantikan sebagai anggota, setelah melewati penggemblengan yang cukup melelahkan di Gunung Salak. Kala itu pesertanya ada 36 orang (banyak sekali ya…?). Peserta anak kelas satu ada lima orang termasuk saya, yang lainnya para senior, anak-anak kelas dua dan tiga.  Ketika saya mengajukan agar kegiatan pencinta alam diarahkan ke Ujungkulon, ada yang mengajukan ke Semeru dan Gunung Ciremai. Akhirnya liburan kala terdiri dari tiga perjalanan, dengan masing-masing siswa yang tertarik untuk ikut. dan mempunyai jadwal keberangkatan yang berbeda-beda. Bagi kami yang akan berangkat ke Ujungkulon, start dimulai dari sekolah kami.

Setelah kami (anak kelas 2 terdiri 2 orang, anak kelas 1 terdiri dari 4 orang dgn seorang anak perempuan yang tomboy) semua sudah siap dengan segala perlengkapan dan perbekalan kami, setelah kami berdoa, kami mulai bergerak dari sekolah kami di senayan. Kami menuju terminal Kalideres  kemudian naik bis jurusan Labuan. Kami tiba di terminal Labuan sudah malam dan sudah kehabisan mobil untuk melanjutkan perjalanan kami selanjutnya. Akhirnya kami berjalan kaki dari terminal Labuan, menuju kantor Balai Taman Nasional Ujungkulon tempat kami mengurus surat-surat ijin seminggu sebelumnya. Kami bermalam disitu dan pagi-pagi sekali bangun untuk segera menuju tempat mangkal angkutan yang akan mengantar kami ke tujuan selanjutnya yaitu sebuah desa bernama Sumur yang akan memakan waktu sekitar 4 jam.

Setelah kami tiba di Sumur, setelah makan siang, kami melanjutkan tujuan kami selanjutnya yaitu desa Taman Jaya, dengan naik ojek. Angkutan dari Labuan hanya bisa sampai desa Sumur. Jalan menuju Taman Jaya masih jalan desa, dan terkadang melewati jalan rusak yang panjang.  Perjalanan ditempuh kira-kira 2 jam.

Setelah kami tiba di desa Taman Jaya, kami melapor kembali di kantor Balai Taman Nasional Ujungkulon, sebelum kami memasuki hutan cagar alam taman nasional tersebut. Ini desa terakhir yang kami temui sebelum kami memasuki Taman Nasional Ujungkulon. Biasanya kita akan ditawarkan apakah kita membutuhkan seorang Guide. Karena kami pernah melewati Taman Nasional ini sampai ke ujung nya, maka kami diperbolehkan melintasi Taman Nasional Ujungkulon ini tanpa Guide. Karena waktu masih sore (kira-kira jam 3-an) dan memungkinkan bagi kami untuk mengapai shelter pertama di dalam hutan, kami segera meminta ijin dan pamit untuk melanjutkan perjalanan kami selanjutnya, yaitu menuju shelter Karangajang dengan tidak lupa berdoa terlebih dahulu.

Perjalanan menuju shelter Karang Ranjang ditemani cuaca hujan saat itu, namun bagi kami sebagai pencinta alam, panas dan hujan bukanlah tantangan. Mula-mula kami melewati melewati rumah-rumah terakhir dari penduduk di desa itu, sebelum kami memasuki hutan Taman Nasional Ujungkulon untuk kira-kira seminggu lamanya, sebelum kami kembali ke peradaban lagi. Juga sebelum memasuki hutan kami melewati persawahan yang di jalannya banyak sekali pacet. Kami juga melewati jembatan gantung yang di bawah mengalir arus deras menuju laut. Setelah kami melewati beberapa rumah terakhir dari penduduk di desa itu kami mulai memasuki hutan cagar alam yang tidak lama kemudian kami sampai di pinggir pantai, persisnya di Teluk Selamat Datang (tertera jelas di peta pulau Jawa) seperti foto di bawah ini.

Di teluk Selamat Datang

Setelah melewati muara kami masih menyelusuri pantai, yang tidak lama kemudian kami akan memasuki hutan sampai tembus nantinya bertemu dengan pantai selatan yang berombak besar. Hutan yang kami lalui cukup lebat dan jalan yang kami lewati pun tidak terlalu lebar, sehingga kami harus tidak boleh saling berjauhan agar bila berjumpa dengan binatang seperti ular, babi celeng ataupun macan tutul, kami bisa siap dan saling bantu. Setelah berjalan kira-kira 3 jam dari Taman Jaya, akhirnya kami tiba di shelter Karang Ranjang yang adalah berbentuk rumah bila ditinggali untuk bermalam tanpa perlu mendirikan tenda. Hari sudah hampir gelap, tapi kami masih sempat menikmati indahnya sore hari sambil memandangi ganasnya laut pantai selatan. Di dekat rumah tersebut ada sumur dan akhirnya kami mandi di situ kemudian makan malam dengan memasak indomie+kornet+sarden, beras, teh manis, susu. Setelah kenyang kami bercengkrama dengan satu sama lain agar tidak pikiran-pikiran negatif di dalam hutan. Setelah mengantuk akhirnya kami istirahat tidur untuk memulihkan tenaga setelah seharian perjalanan dari Labuan.

Keesokan pagi nya kami melanjutkan perjalanan panjang kami berikutnya yaitu Tanjung Layar (ujung dari Taman Nasional Ujung Kulon). Perjalanan berikutnya akan disuguhi padang pasir berkilo-kilo meter sebelum memasuki hutan kembali. Kami akan berjalan menyusuri pantai selatan sebelah kiri kami dan hutan lebat di sebelah kanan kami dari pagi sampai kira-kira jam 2 siang.

Awal pantai penderitaan, dekat Karang Ranjang

Setelah kami berjalan berjam-jam menyusuri padang pasir pantai selatan, kira-kira tengah hari tiba kami di muara Cikesik yang cukup dalam, dimana kami harus mengangkat ransel kami di atas kepala agar tidak terkena air. Untuk ransel yang besar dan berat kami harus saling bantu untuk mengangkatnya, karena biasanya isinya pun ada yang untuk kebutuhan bersama, tidak hanya milik perorangan. Setelah semua ransel menyeberang, akhirnya kami pun mandi dan berenang sebentar di muara tersebut dan berharap tidak ada buaya yang datang. Setelah foto-foto sebentar kami pun makan siang setelah berganti baju di tempat yang teduh di pinggir hutan.

Di muara Cikeusik

Setelah makan siang perjalanan kami lanjutkan kembali. Kami masih harus melewati padang pasir pantai selatan untuk menemukan jalur jalan setapak ke dalam hutan ke arah Tanjung Layar. Setelah kurang lebih 2 jam kami berjalan, kami melihat batu karang yang besar di tengah pantai, tetapi tidak jauh sebelum batu karang tersebut kami sudah harus masuk hutan lagi ke arah Tanjung Layar. Jalan setapaknya sudah hampir tertutup dengan tumbuh-tumbuhan, karena kami ingat dulu jalurnya adalah sebelum batu karang di tengah pantai tersebut. Kami beristirahat sejenak sebelum kami melanjutkan perjalanan kami kembali.

Setelah kurang lebih 1 jam kami beristirahat perjalanan kami lanjutkan kembali dengan menyelurusi hutan yang masih sejajar dengan pantai selatan sampai kami menemukan jalur ke tengah hutan, karena jalan setapaknya sudah tertutup dengan tanaman yang ada. Persediaan air kami sudah sangat menipis. Tujuan terdekat kami adalah Cibunar dimana ada sungai kecil di dalam hutan yang airnya sangat jernih sehingga bisa langsung diminum. Dua rekan kami sudah jalan terlebih dahulu (1 orang senior, anak kelas 2 dan yang lain anak kelas 1), karena seingat kami sungai kecil tersebut tidak jauh lagi, kami setuju berpisah dan akan berjumpa di sungai tersebut.

Ternyata petaka bagi kami karena ada senior yang ingin terlebih dahulu jalan daripada bersama-sama. Kami semua dua kelompok yang saling tersasar satu sama lain. Rombongan yang pertama jalan masih terus menyusuri hutan di pinggiran pantai, sedangkan rombongan saya terlalu cepat masuk ke dalam hutan yang akhirnya saya sadari bahwa saya sepertinya sudah tersesat. Karena kami sangat membutuhkan air, kami akan berhenti bila kami bertemu dengan sumber air terlebih dahulu. Akhirnya saya bersama 3 orang anak kelas satu lainnya berhenti setelah menemukan ada mata air yang mengalir yang airnya jernih dan bisa diminum.

Karena hari sudah mulai gelap saya memutuskan untuk mendirikan tenda dan bermalam dekat mata air tersebut. Saya selalu berusaha menghibur para junior yang ada agar berpikiran tenang dan tidak terlalu khawatir (sebagian dari survival). Kami masak untuk makan malam dan membuat minuman hangat, teh manis, STMJ (Susu Telor Madu Jahe) buatan Sido Muncul. Bagi yang pria, kami saling bergantian jaga malam, karena sepertinya tempat kami tersebut bukan jalur yang dilewati para adventurir. Sebelum saya tidur saya meeting dengan para junior untuk kembali melihat peta dan seharusnya kami tidak terlalu terburu-buru masuk ke dalam hutan, tetapi menyelurusi daerah masih berdekatan dengan pantai terlebih dahulu. Kami menrencanakan agar besok paginya untuk kembali ke arah pantai dan coba menyelusuri jalur yang masih berdekatan dengan pantai dan kami berdoa agar rekan-rekan kami yang lain dalam keadaan baik.

Pagi pun tiba dan kami jalani rencana kami semalam. Beruntung akhirnya kami berjumpa dengan 2 rekan kami yang lain yang bermalam di jalur yang masih berdekatan dengan pantai. Mereka pun bingung untuk masuk hutan di hari kemarinnya dikarenakan jalur ke dalam hutan tidak mereka temukan, sehingga mereka menunggu kami dan bermalam di situ. Beruntung mereka pun menemukan mata air kecil di jalur yang mereka jalani. Akhirnya senang bisa bersama-sama lagi dan coba mengingat-ingat kembali patokan yang menjadi jalur untuk masuk ke tengah hutan. Akhirnya saya dengan teman saya, yang seangkatan dengan saya, menemukannya dan mulai masuk ke dalam hutan menuju sungai kecil yang sudah disinggung di atas.

Kamipun setelah berjalan beberapa jam, akhirnya menemukan sungai kecil tersebut, mandi dan makan di situ. Kemungkinan Badak baru saja minum di sungai kecil tersebut, karena ketika akan turun ke sungai kecil tersebut kami mendengar ada menerobos semak-semak dengan cepat. Lihat di belakang tempat kami berdiri.

Di Cibunar

Setelah kami kenyang kami melanjutkan perjalanan kami menuju Tanjung Layar. Di tengah hutan kami berjumpa tempat yang disebut padang pengembalaan. Di tempat ini banyak sekali banteng, dan kami hanya bisa melihat dari kejauhan saja, dan sayang sekali saya sudah tidak punya foto-fotonya. Kami terus berjalan menyelusuri hutan sampai nanti kami tiba di Cibom, yang mengarah ke pantai utara yang tenang. Berarti Tanjung Layar sudah tidak jauh lagi. Lega rasanya.

Setelah beristirahat sejenak di Cibom, perjalanan kami lanjutkan menuju Tanjung Layar. Dan setelah berjalan kira-kira setengah jam, akhirnya sampai kami di tujuan akhir yaitu Tanjung Layar, dengan mercu suar nya yang tinggi besar. Kami bertegur sapa dan saling bersalaman dengan para penjaga mercu suar yang bertugas di sana dan meminta ijin untuk bisa tinggal di rumah yang ada, beberapa hari sebelum kami kembali ke Labuan. Sayang sekali foto-foto yang ada di Tanjung Layar tidak banyak yang tersisa.

Di Tanjung Layar ada pasir putih, tebing untuk latihan rock climbing, batu karang tempat banyak umpan untuk mancing ikan, menempel. Pemandangan yang indah bisa kita nikmati bila kita berani di ketinggian, yaitu dari mercu suar. Lihat foto-foto di bawah ini. Ketika kami berfoto di batu karang, di belakang kami, tinggi di atas sana ada mercu suar. Mercu suar tersebut ada di belakang saya ketika saya berfoto di mercu suar utama yang lebih tinggi. Lihatlah ke bawah dari tempat saya berdiri di mercu suar utama. Itu adalah lokasi tempat saya berfoto dengan anak kelas 1, di batu-batu karang. Jadi bayangkan saja betapa tingginya kami berdiri ketika kami berfoto di mercu suar utama. Kami pun merasa dag dig dug ketika kami menaiki mercu suar utama tersebut untuk sampai ke atas, karena bila ada angin kencang, mercu suar utama tersebut terasa getarannya. Sejauh mata memandang kita bisa melihat Lautan Hindia yang luas dengan kapal-kapal besar yang sedang lewat, pulau-pulau kecil, dan hutan Ujung Kulon yang luas.

Di pinggir pantai di Tanjung Layar

Di mercusuar di Tanjung Layar

Kami hanya tinggal sehari saja di Tanjung Layar, karena masa liburan kami segera habis. Kebetulan juga ada kapal kayu yang mengantar para penjaga mercu suar keesokan hari setelah kami sampai di Tanjung Layar.

Akhirnya kami pun pamit lewat tengah hari, kepada para bapak-bapak penjaga mercu suar dan menumpang kapal kayu kecil sampai ke desa Sumur. Dalam perjalanan pulang kami disuguhi pemandangan yang indah-indah, seperti lumba-lumba di kejauhan, ular laut yang kecil yang dekat dengan perahu kami dan burung-burung yang bertengger di atas batang pohon yang sedang banyak di dekat kami. Kami juga dikagetkan dengan ikan terbang. Sungguh suatu pengalaman yang tidak terlupakan.

Kamipun tiba di desa Sumur malam hari, dan setelah makan malam kami pun tidur beristirahat untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Labuan esok. Akhirnya kami kembali ke peradaban terdekat malam itu. Esok pagi setelah makan pagi dan bercengkrama dengan rekan-rekan, kami pun pamit dengan yang punya rumah, sang pemilik kapal kayu yang kami tumpangi, untuk berangkat ke Labuan. Di Labuan kami merasa telah kembali ke peradaban yang sebenarnya (hehehe….) :-)

Dari Labuan kami melajutkan perjalanan menuju Kalideres dan kembali kepada orangtua masing-masing. Bila di tahun sebelumnya (ketika saya kelas 1), saya bermalam tahun baru di Taman Jaya (setelah kembali dari Tanjung Layar, dengan naik kapal kayu juga), di kelas 2 setelah kembali dari Ujung Kulon kami bermalam tahun baru di Jakarta, persisnya di rumah ketua pencinta alam SMA kami.

Semua team pencinta alam yang sudah kembali dari perjalanan mereka selama liburan berkumpul kembali menikmati malam tahun baru, sekaligus bercerita tentang pengalaman mereka selama liburan. Semenjak itu tempat yang paling mengasyikkan bagi saya sebagai pencinta alam adalah Ujung Kulon dan suatu saat nanti saya berniat bila ada kesempatan, ingin menjajal kembali perjalanan yang melelahkan namun mengasyikan di Ujung Kulon. :-)


5 Responses to “Ujung Kulon”

  1. tanto exispal says:

    bos, nt masih nyimpan aja foto-foto jadul kita.
    ini no hp gw bos, tanto ( 08159072375). contact-contac ye.

    • bosimanurung says:

      Yo i to…
      Itu perjalanan yg gak akan pernah gw lupakan coi…
      Perjalanan terseru kedua setelah Rinjani…
      Perjalanan karena ngebettt pengenn ke UjungKulon lagi walau tanpa anak kelas 3 waktu itu…
      Di album foto loe masih ada foto2 lainnya gak…?
      Nanti bisa ditambahin disini…

  2. Zuldefri says:

    Bos masih inget aje lo perjalanan paling mengesankan buat gw ini. Perjalanan yang penuh tantangan menurut gw. Padahal gw sempat down waktu itu karena seniornya cuma kita berdua, gak ada anak klas tiganya. Dan hebatnya foto foto ini masih ada. Gw tanggal 17 Agustus 2009 ini mau ke Ujung Kulon, mau nostalgia masa SMA. Tapi perjalanannya pake jalur cepat lewat laut Bos. Lewat darat kayaknya dah gak kuat nih.

    • bosimanurung says:

      @zuldefri :
      hallo zul, gimana kbrnya…?
      masih tinggal di karet…?
      wah, syang banget gw kaga bisa ikut tuh tgl 17 krn ada keperluan lain…
      kalo kaga ada keperluan gw pengen sih ikut, pengen liat tanjung layar lagi…
      berapa hari zul rencananya…?
      jadi nggak ikut 17an sama anak2 exispal donk ya…?

      @budiloa :
      wah gak tahu nih, kapan mau kesana lagi…
      kalo ada waktu dan biaya tentunya…
      bolehlah nanti kalo kesana lagi kabar2i…

  3. budiloa says:

    mantap bos kapan berangkat lagi ajak2lah kita juga mo ikutan.

Leave a Reply