Twitter
LinkedIn
YouTube
Facebook

Misteri Gunung Gede Pangrango

Gunung Gede Pangrango tampak di kejauhan. Sumber foto: wwf.or.id

Gunung Gede Pangrango adalah gunung yang ada di taman nasional gunung Gede Pangrango yang terletak di Provinsi Jawa Barat, yang bisa didaki lewat pintu masuk pendakian di Cibodas dan Cipanas yang kedua-duanya bisa diakses lewat jalan raya puncak, maupun pintu masuk pendakian Salabintana, Sukabumi. Meskipun gunung Gede Pangrango sangat bermanfaat bagi daerah-daerah sekitarnya, bahkan sampai sejauh 120 kilometer yang mengaliri sungai Ciliwung di Jakarta yang sampai ke dekat laut di darah Sunda Kelapa, namun Gunung Gede Pangrango seringkali masih menyimpan misteri. Banyak menikmati perjalanan selama pendakian di Gunung Gede Pangrango. Tidak sedikit pula yang mengalami hal-hal yang aneh ketika mendaki gunung Gede Pangrango. Hal ini tidak terkecuali dialami oleh saya dan teman-teman saya, ketika melakukan pendakian, khususnya ke gunung Gede, seperti yang akan saya ceritakan ke depan. :)

Ini pendakian ke Gunung Gede bersama teman-teman kuliah sekelas saya di semester 4. Teman saya yang sedang duduk (si George) pernah ke Gunung Gede dan mengajak saya untuk mendaki ke Gunung Gede bersama teman-teman sekelas yang belum pernah naik gunung (Anwar, Ali, Wawan), termasuk seorang teman kami yang perempuan (Fifi) yang ingin juga mau mencoba apakah mampu sampai ke puncak Gunung Gede. Mereka semua adalah para mahasiswa teladan yang pintar2 dan rajin2 di kelas dan menguasai pelajaran komputer dan menyelesaikan tugas2 dengan baik. Saya mau dekat dengan mereka supaya bisa tertular juga, dan yang lebih penting terhindar pergaulan buruk yang juga ada di kampus.

Kami berangkat dari kampus Margonda setelah makan siang dengan menumpang kereta api yang berdekatan dengan kampus UI, menuju Bogor, dilanjutkan naik bis yang lewat puncak, dan tiba di Cibodas kira-kira jam 4 sore.  Kemudian kami makan di warung sebelum naik. Setelah kenyang dan istirahat di pos penjagaan Cibodas, mejelang senja setelah menyelesaikan administrasi di pos masuk, kami memulai pendakian kami.

Tujuan pertama kami shelter Cibereum dekat air terjun. Kami berjalan sangat santai dan banyak berhentinya, tidak ada target untuk sampai pukul berapa di pos/shelter Kandang Badak sebagai shelter terakhir sebelum puncak. Selain kami sedang dalam masa liburan, juga karena kebanyakan teman-teman saya baru kali ini ikut mendaki gunung. Sepanjang perjalanan kami menuju Cibereum banyak sekali sumber air, sehingga kami tidak khawatir kehabisan air minum.

Setelah sampai di shelter Cibereum kira-kira jam 8 malam, kami beristirahat dengan cukup sebelum melanjutkan perjalanan kami lagi menuju shelter Kandang Badak, sebelum mencapai puncak gunung. Setelah cukup beristirahat dan air minum kami cukup untuk sampai Kadang Badak, kami melanjutkan perjalanan kami.

Trek menuju Kadang Badak lebih menanjak lagi, sehingga benar-benar menguras tenaga teman-teman kami yang kebanyakan baru pernah mendaki ini. Tetapi usaha kami tidak sia-sia. Kami pun tiba di Kadang Badak kira-kira jam 3 pagi sebelum kami beristirahat sejenak dan masak indomie untuk mengisi perut kami yang sudah lapar.

Berfoto di dekat pos/shelter Kadang Badak

Setelah kami makan dan cukup beristirahat, dan setelah membuat persediaan air kami penuh lagi, kira-kira pukul 4.30 pagi, kami melanjutkan perjalanan kami menuju puncak gunung Gede. Perjalanan menuju puncak Gunung Gede cuma cukup berat terutama bagi teman yang kami yang perempuan. Dua teman kami tidak sabar ingin cepat-cepat sampai puncak, sehingga meninggalkan rombongan terlebih dulu untuk mencapai puncak tertinggi. Usaha kami tidak sia-sia, akhirnya kami tiba juga di puncak awal gunung Gede sekitar jam 6 pagi. Sangat disayangkan cuacanya berawan kala itu, sehingga kami tidak bisa menikmati sunrise karena tertutup awan-awan.

Puncak Gunung Gede yang penuh dengan awan

Dua teman kami tidak kelihatan begitu kami tiba disitu. Sepertinya mereka langsung menuju puncak tertinggi, disebelah sananya lagi dari tempat kami berfoto di atas, setelah kami menapaki perjalanan yang cukup melelahkan dari pos Kandang Badak. Kami berfoto beberapa kali sebelum kami mengejar teman kami yang sudah lebih dulu tiba di puncak tertinggi sebelah sana.

Puncak awal Gunung Gede. Puncak Tertinggi yang runcing di sebelah sana

Lihatlah betapa senangnya teman kami yang perempuan (Fifi) akhirnya bisa sampai di puncak Gunung Gede, sampai mengepalkan tangannya, dengan kaki dibalut kain, karena terpentok sewaktu perjalanan menuju puncak dan juga di-sasar-in setan sewaktu lagi jalan sendirian. Seraya waktu berjalan matahari akhirnya muncul juga, dan mulai menghangatkan tubuh kami yang selalu kedinginan sejak semalam. Saya juga tidak menyia-nyiakan untuk minta difoto sendiri.

Kesempatan untuk difoto sendirian

Setelah berfoto-foto di puncak awal Gunung Gede, kami bergerak ke puncak tertinggi agar bisa bertemu dengan 2 teman kami yang sebelumnya telah jalan terlebih kesana. Kami pun berfoto di puncak tertinggi Gunung Gede dengan latar belakang Puncak Gumarang yg alun-alun yang ada di sampingnya akan dicapai terlebih dulu bila menyelewati jalur Salabintana Sukabumi.

Di puncak gunung Gede. Ali, Anwar, Wawan, George (duduk), Saya, dan Fifi

Di puncak Gunung Gede dengan latar belakang alun-alun Surya Kencana

Setelah cukup beristirahat, kamipun turun menuju alun-alun Surya Kencana untuk membayar utang tidur kami karena pendakian semalam. Setelah cukup tidur, saya terbangun kira-kira jam 11 siang, dan segera masak untuk makan siang kami semua.
Setelah kami kenyang dan cukup beristirahat, kami bergerak pulang melanjutkan perjalanan kami lagi menyusuri alun-alun sebelum sampai kepada jalur turun gunung yaitu jalur gunung putri Cipanas. Kami beristirahat sejenak di ujung dari alun-alun, di mulut jalur turun melalui jalur gunung putri Cipanas.

Kemudian setelah beristirahat sebentar, kami bergerak menuju pos gunung putri Cipanas. Kami tiba di dekat perkemahan gunung putri Cipanas sekitar pukul 5 sore. Kemudian kami melapor ke pos penjagaan gunung putri. Setelah pemeriksaan apakah kami membawa edelweis, kamipun melanjutkan perjalanan kami lagi. Kami langsung cari warung lagi untuk mengisi perut kami lagi sebelum kami naik angkutan menuju jalan raya puncak Cipanas, untuk selanjutnya menuju rumah kami di Jakarta.


2 Responses to “Misteri Gunung Gede Pangrango”

  1. Fifi says:

    Kenangan masa muda yg tak terlupakan seumur hidup ! ^^

  2. bosimanurung says:

    Sorry baru diapply dan baru dibls fi…
    Baru OL lagi soalnya… Begini lah kalo jadi org sibuk… :)
    Iya, itu kenangan semasa kuliah yg tak pernah bisa terlupakan… Kapan2 kudu naik bareng2 lagi nih…. 😀

Leave a Reply