Twitter
LinkedIn
YouTube
Facebook

Papandayan Garut Ke Tegal Alun

Pagi hari di sekitar gunung Papandayan

Pendakian ke Papandayan ini diadakan pada bulan September 2013, persisnya pada tanggal 8 September 2013. Pendakian ini diadakan karena teman saya yaitu brother Samson William, akan kembali ke India setelah beberapa tahun meninggalkan keluarga untuk bekerja di Indonesia. Jadi supaya ada kenang-kenangan sebelum berpisah dengan teman-teman di Indonesia, saya mengajak dia untuk mencoba mendaki gunung Papandayan.

Perjalanan ini diadakan dengan mengendarai kendaraan pribadi, berangkat dari tempat tinggal brother Samson yaitu di daerah Cibubur. Kami berangkat malam hari dengan harapan bisa sampai disana saat matahari terbit. Dari Cibubur, kami langsung masuk tol Jagorawi dan dilanjutkan ke tol Cikampek (Cipularang) yang berujung di pintu tol Cileunyi, Bandung. Keluar dari pintu tol Cileunyi, kami beristirahat sejenak sambil menikmati tahu sumedang. Setelah cukup beristirahat, perjalanan kami lanjutkan menuju Nagrek yang menghubungkan jalan menuju Garut dan Tasik.

Memasuki kota Garut, kami beristirahat di pom bensin untuk tidur sejenak kira-kira 1 atau 2 jam. Setelah itu, perjalanan kami lanjutkan menuju Cisurupan. Cahaya langit sudah mulai tidak gelap pekat lagi ketika kami tiba di Cisurupan. Kami berbelanja makanan kecil untuk dibawa selama pendakian nanti, khawatir tidak ada yang berjualan atau dagangan di warung, habis, saat kami tiba di Camp David, pintu masuk pendakian gunung Papandayan. Kemudian setelah kami membeli makanan kering, kamipun bergerak melewati jalan desa menuju camp David, pintu masuk pendakian gunung Papandayan. Sebelum sampai di camp David, kamipun menyempatkan diri berfoto-foto sejenak karena pemandangan yang indah pagi itu. :)

Memandang ke arah belakang, ada sunrise dan gunung Cikuray

Personilnya jupa difoto

Puncak Papandayan pun sudah terlihat

Setelah kami tiba di parkiran mobil camp David, pintu masuk pendakian gunung Papandayan, ternyata ada beberapa warung yang buka. Kamipun memesan makanan untuk sarapan pagi kami. Makanan khas naik gunung yaitu indomie dan telor. Nasipun ada juga ternyata. Kami memesan sekaligus dengan nasi agar tenaga kami bisa cukup untuk pendakian. :)

Sarapan pagi di tengah jalan, supaya terkena sinar Matahari yang hangat

Kamipun beristirahat sejenak setelah menikmati sarapan pagi kami. Setelah nasi kami sudah cukup turun dan nyaman bagi untuk berjalan, kamipun mulai bergerak. Teman kami yang satu tidak ikut karena ingin istirahat saja di mobil. Akhirnya hanya kami saja bertiga dan diterima teman kami di sana yaitu kang Irfan. Tidak kami mengambil gambar pemandangan pagi yang cerah saat itu.

Amazing

Di sekitar kawah Papandayan

Berfoto dulu dengan yang mau lewat

Brother Samson mau coba mengendarainya

Kami tiba di persimpangan yang memisahkan jalan ke lawang angin (lubang angin) bila lurus ke depan, dan ke hutan mati bila belok ke kiri. Kami belok ke kiri ke arah hutan mati kemudian terus menanjak ke arah kiri agar bisa lebih cepat ke puncak Papandayannya dengan melewati Tegal Alun tanpa lewat pondok Saladah. Ke pondok Saladahnya nanti ketika kami kembali turun ke bawah ke pos pendakian (camp David).

Tampak di kejauhan, jalur menuju Lawang Angin

Brother Samson berjalan menuju hutan mati

Di hutan mati

Setelah 1 jam jalan menanjak dari hutan mati, tibalah di Tegal Alun

Padang bunga Edelweiss di Tegal Alun

Berfoto sejenak dengan latar belakang puncak 1 Papandayan

Bunga Edelweiss yang berwarna-warni

Bunga yang lain yang keren juga

Di Tegal Alun kami beristirahat sambil menikmati makan siang kami di tengah padang bunga Edelweiss yang cantik-cantik itu. Setelah makanan turun dan cukup beristirahat, kami bergerak kembali, tapi untuk mencari air ke arah jalan ke puncak 1 Papandayan. Tapi setelah mengambil air, kami tidak lanjut ke puncak 1 Papandayan, karena khawatir kalo nanti kami tiba di bawah, di camp David terlalu malam, sedangkan kami harus langsung kembali ke rumah di Cileungsi. Kami turun lewat Pondok Seladah dan Lawang Angin, dengan ambil sisi kiri setelah bertemu hutan mati kembali.

Tiba kembali di hutan mati, setelah turun dari Tegal Alun

Tiba di Pondok Seladah

Berfoto close-up dulu sejenak

Padang bunga Edelweiss nya tidak seluas Tegal Alun

Tiba di hamparan hijau Giberhut, dekat Lawang Angin

Tiba di Lawang Angin, jalur yang bisa dilewati motor

Harus menyeberangi jalan air juga

Brother Samson tertutup kabut yang mulai naik

Tiba kembali di camp David

Setelah tiba kembali di camp David, kami siap-siap kembali ke Cileungsi


Leave a Reply