Twitter
LinkedIn
YouTube
Facebook

Bromo

Kawah gunung Bromo (sebelah kiri). Sumber foto: en.wikipedia.org

Perjalanan ini dilakukan setelah pulang dari tugas ke kantor cabang Denpasar PT. Timurraya Kurniamanunggal tempat sya bekerja saat ini (Mei 2013). Saya pulang lewat darat, sebaliknya daripada lewat udara. Tujuan adalah agar bisa menikmati pemandangan gunung Bromo dahulu, sebelum kembali ke Jakarta.

Saya tiba di terminal bis Probolinggo tanggal 4 Mei 2013 jam 3 pagi, setelah menumpang bis Pahala Kencana jurusan Malang dari terminal bis Ubung di Denpasar hari Jumat jam 5.30 sore dengan harga tiket bis Rp. 130.000,-. Bis nya tidak masuk terminal, tapi langsung menuju Malang, jadi saya turun di jalan yang menghubungkan Pasuruan – Banyuwangi. Karena angkot seperti belum ada jam segitu, setelah lama ditunggu-tunggu, saya memilih naik becak dgn ongkos Rp. 10.000,-.

Tiba di terminal bis Probolinggo yg masih lengang, saya melihat ada dua mobil angkutan yg disebut Byson yang biasanya mengangkut penumpang menuju Cemoro Lawang, yang masih kosong penumpang di parkir di pinggir jalan di depan warung-warung yang ada di samping terminal. Lalu saya bertanya kepada salah satu pemilik warung yang masih buka, tentang jam berapa biasanya angkutan ini pertama kali berangkat setiap paginya. Ternyata biasanya jam 6 pagi angkutan yang pertama berangkat, sambil menunjuk si supir yang masih tidur, dan beberapa penumpang dengan tas-tas bawaan mereka yang juga tertidur di bale di depan warung tersebut menunggu keberangkatan angkutan tersebut berangkat. Akhirnya saya pun beristirahat di warung itu sambil menikmati makanan dan minuman yang tersaji, agar bisa meletakkan tas-tas bawaan dan duduk sambil menyenderkan kepala sambil menunggu keberangkatan si Byson. Ternyata sekitar jam 4 lewat, salah satu mobil (yang berwarna biru) mesinnya menyala dan sang supir membawa ke arah jalan raya yang menghubungi Pasuruan – Banyuwangi. Saya bertanya kepada yang punya warung, mau kemana mobil tersebut pergi, yang dijawab mungkin mau menjemput para turis. Ternyata kurang lebih setengah jam kemudian mobil tersebut tiba, dengan beberapa penumpang di dalamnya yang sepertinya hampir penuh bila dilihat dari luar. Beruntung di depan masih kosong, langsung saja saya taruh tas-tas saya di depan kemudian saya duduk di kursi tersebut. Saat itulah sambil melihat ke belakang di bagian mobil, utk melihat para penumpang yang ada, saya melihat ada dua turis, yang belakangan saya berkenalan, yang pria bernama Sebastian dan yang wanita bernama Famke, keduanya berasal dari Holland (Belanda). Kemudian ada seorang bapak-bapak yang juga mau ikut duduk di depan, di samping saya yang juga ternyata seorang supir angkutan Byson yang mau beristirahat ke rumahnya.

Menjelang jam 5 pagi yang masih gelap saat itu, mobil tersebut akhirnya bergerak. Di perjalanan, sebelum si bapak supir yang mau pulang ke rumahnya, yang duduk di sebelah kiri saya turun, saya banyak bertanya kepadanya mengenai daerah itu dan juga ongkos normalnya angkutan tersebut berapa biasanya, yang ternyata dijawab bahwa ongkos biasanya Rp. 25.000,-. Saya juga bertanya tentang ongkos ojek ke Cemoro Lawang, atau ke Pananjakan dari Cemoro Lawang. Dan si bapak itu bilang kalo naik ojek dari terminal ke Cemoro Lawang bisa Rp. 60.000,- dan dari Cemoro Lawang ke Pananjakan kira Rp. 70.000,- pulang pergi. Dari si bapak itu juga saya dapat informasi bahwa pak SBY yang menginap di daerah Probolinggo dari kemarinnya setelah mengikuti acara latihan tempur TNI di Situbondo, rencananya hari itu akan naik ke atas jam 10 pagi dan akan menginap di Cemoro Lawang utk melihat sunrise besok paginya, yang berarti jalanan akan ditutup untuk umum selama rombongan kepresidenan lewat, dan selama menginap di Cemoro Lawang sampai SBY turun lagi ke Probolinggo, daerah wisata Bromo dan sekitarnya akan ditutup. Maka sejak saat itu, saya berdoa agar mudah-mudahan nanti turun balik ke bawah (ke terminal Probolinggo) masih ada mobil. Tidak lama kemudian si bapak itu pun turun, sambil menunjukkan arah jalan ke arah rumahnya. Tidak lupa saya bilang terima kasih ke si bapak itu atas infonya.

Seraya waktu berjalan, cahaya pagi lambat laun semakin terang. Saya terkagum-kagum dengan pemandangan yang ada selama masih di angkutan (Byson). Melewati pedesaan yang ada di lembah, dan daerah pegunungan. Baru teringat merekam setelah pemandangan yang excited itu lewat. Mudah-mudahan rekaman yang ada tidak kalah bagusnya. Tapi sayang sementara saya belum bisa mengupload ke blog karena fasilitas yang saya miliki terhadap blog ini masih terbatas. Mudah-mudahan di lain waktu, saya bisa meng-upgradenya supaya bisa mengupload videonya. Seraya makin terang, saya sesekali ngobrol-ngobrol dengan para turis yang duduk di belakang. Sambil membicarakan kondisinya yang sedikit berbeda karena ada kunjungan Presiden SBY ke daerah ini.

Tak terasa perjalanan akhirnya telah sampai di Cemoro Lawang. Saat turun itulah saya berkenalan dengan turis dari Belanda tersebut. Dua sejoli dari Belanda yang sedang berlibur di Indonesia. Mereka baru tiba di Probolinggo ternyata setelah dari Bali juga dan menumpang bis pula. Jadi mirip dengan perjalanan saya juga, hanya berbeda waktu dan kendaraan bis saja selepas pergi dari Bali. Mereka pun mencoba mencari hotel untuk mereka menginap, karena mereka berniat akan melihat sunrise esok paginya. Sedang saya bertanya ongkos ojek untuk ke Pananjakan dua. Ternyata tukang ojeknya mintanya sangat mahal, Rp. 350.000,-, wow!. Akhirnya saya tanya jeep, yang ada dekat situ, dan mau Rp. 150.000,-. Akhirnya si Sebastian dan Famke setuju untuk patungan sewa Jeep ke Pananjakan, dan mau ikut saya untuk langsung turun ke Probolinggo nantinya, karena ternyata tidak ada kamar yang kosong, dan karena ada kunjungan SBY, mereka tidak akan bisa lihat sunrise besoknya, merekapun menitipkan saja ransel-ransel bawaan mereka untuk diambil kembali sekembalinya kami dari atas.

Ternyata hanya akal-akalan si supir Jeep saja yang mau mengantarkan kami ke Pananjakan, ternyata jalur yang biasa digunakan Jeep untuk ke Pananjakan ditutup karena adanya kunjungan Presiden RI ke daerah ini. Kami hanya diantar lewat jalur pendakian jalan setapak saja, yang akhirnya Jeep tersebut berhenti di tempat yang mobil tidak memungkinkan lagi untuk berjalan, karena hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki saja untuk ke puncak Pananjakan. Walaupun demikian tidak jauh dari tempat kami harus turun dari Jeep, ada tempat yang cukup indah pemandangannya dengan belakangan gunung Semeru, Bromo dan lautan pasir. Akhirnya kami pun foto-foto dulu di tempat tersebut, dimana banyak orang juga sedang menikmati pemandangan di tempat itu.

Foto dengan Sebastian dan Famke, para turis dari Belanda

Sebelum menapaki jalan yang ada menuju puncak Pananjakan, kami cari sarapan dulu di warung yang ada di pinggir jalan, dan membeli cadangan air aqua untuk di perjalanan. Setelah saya menikmati sarapan pagi berupa pop mie, sedangkan Sebastian dan Famke hanya minum kopi saja, kemudian kami pun bergerak dan mulai mendaki. Seraya kami mulai menapaki jalan setapak yang derajat kemiringannya semakin tinggi, kami pun sering menertawakan aroma tidak sedap dari kotoran kuda yang banyak di jalan yang kami lewati, sampai kami pun tiba di shelter yang dibangun dengan semen dan dari tempat itu pemandangannya cukup indah utk beristirahan dan mengambil gambar. Kami beristirahat di tempat itu dan mengambil gambar dan sambil menikmati cemilan gorengan yang saya beli dari seorang ibu yang berjualan di dekat shelter itu.

Sebastian dan Famke yang sedang menikmati pemandangan

Namun setelah saya menikmati pemandangan di tempat itu dan ngobrol-ngobrol dengan Sebastian dan Famke, saya coba mendaki lagi sendiri ke atas sedikit lagi, karena ternyata mereka tidak mau melanjutkan perjalanan lagi ke puncak Pananjakan, merasa cukup dengan pemandangan yang ada di hadapan mereka. Setelah cukup tinggi saya mendaki sendiri, sampailah saya di tempat yang terbuka yang cukup indah pemandangannya. Saya pun beristirahat dan mengambil gambar.

Pemandangan mendekati puncak Pananjakan:

Ternyata puncak Pananjakannya masih cukup jauh di atas, walaupun sudah terlihat menara-menara operator telpon selular. Akhirnya saya memutuskan tidak melanjutkan perjalanan lagi ke atas, dan kembali turun ke shelter tempat Sebastian dan Famke menunggu dan menikmati pemandangan di bawah sana.

Setelah saya tiba di shelter dan ngobrol-ngborol dengan Sebastian dan Famke, mereka pun mengajak untuk kembali ke bawah untuk langsung pulang. Akhirnya kami pun melewati jalan setapak yang cukup curam dan terkadang penuh dengan kotoran kuda. Sesekali saya mengambil gambar dari pemandangan yang kami lihat ketika kami turun.

Pemandangan ketika kami turun menuju pemukiman penduduk

Tak terasa setelah berjalan turun sambil ngobrol-ngobrol, kamipun tiba di pemukiman penduduk, tempat kami naik Jeep, yaitu Cemoro Lawang. Sebastian dan Famke pun segera mengambil ransel-ransel bawaan mereka di hotel yang tadinya mereka mau jadikan tempat menginap. Kamipun makan siang terlebih dulu sebelum melanjutkan perjalanan kami ke Probolinggo.

Ternyata semakin siang jalanan semakin tertutup untuk umum, dan banyak polisi di sana-sini sebagai pengamanan untuk RI-1. Kamipun akhirnya harus berjalan kaki sambil berdoa dalam hati agar bisa bertemu dengan angkutan ataupun mobil pribadi yang menuju ke bawah, ke Probolinggo. Kami bertemu dengan pasangan turis yang lain yang berasal dari Prancis, yang ingin turun ke bawah juga. Banyak turis kecewa dengan keadaan ini, mereka terpaksa harus segera turun ke bawah, mengingat sampai besok lusa pun daerah tersebut hanya dikhususkan untuk RI-1 dan rombongan.

Beruntung kami bertemu dengan mobil carry dengan bak terbuka, dan supirnya pun memberi ijin kami semua berlima untuk menumpang ikut ke bawah, dan supirnya pun membolehkan kami untuk ikut. Ternyata mobil tersebut tidak sampai bawah, tapi hanya masih di sekitar perkampungan itu juga, tapi kami semua cukup senang, karena kami diantarkan ke Jeep yang bertujuan untuk mengantarkan kami ke terminal bis di Probolinggo.
Setelah setuju dengan harga perorang yang dipatok sang supir, kami berangkat bersama dua turis lainnya lagi, menuju terminal bis Probolinggo. Setelah cukup lama kami berjalan, kamipun akhirnya dihentikan oleh polisi-polisi yang sedang membuat pengamanan karena ada iring-iringan RI-1 yang akan lewat. Kami pun akhirnya keluar dari Jeep setelah Jeep kami beserta mobil-mobil lainnya berhenti di pinggir jalan.

Jalan ditutup sementara karena RI-1 ingin lewat

Masih menunggu SBY dan rombongan lewat menuju Cemoro Lawang

Setelah iring-iringan RI dan rombongan lewat, kamipun melanjutkan perjalanan kami menuju terminal Probolinggo. Akhirnya setelah beberap jam perjalanan, kamipun tiba di terminal Probolinggo. Kamipun mengucapkan ucapan perpisahan satu sama lain. Sebastian dan Famke akan melanjutkan perjalanan ke Malang, karena rekan-rekan mereka yang akan ditemui disana. Para turis yang berasal dari Prancis, dan turis-turis lainnya berencana melanjutkan perjalanan mereka ke Bali. Saya sendiri melanjutkan perjalanan ke Surabaya, untuk lanjut antara ke Borobudur, Magelang, atau langsung ke Jakarta. :)


Leave a Reply